Kawan saya Daniel Tobu memperkenalkan saya dengan Herman Widi, seorang sederhana nan tegas lulusan Institut Seni Indonesia yang berasal dari desa Petung, Pakis, Magelang Jawa
Tengah. Sebuah desa asri berada di lereng kaki gunung merapi kurang lebih satu jam perjalanan dari muntilan. Herman mengajak saya untuk bermalam dirumahnya,karena esok harinya kami ingin melihat dan saya ingin memotret ritual sebelum diselenggarakannya pagelaran wayang. Udara malam yang dingin mengurungkan niat saya untuk mandi(hehehe), tetapi saya tidak bisa menolak segelas teh panas ala wong Jowo(seduhan daun teh dan gula pasir yang langsung dihidangkan di gelas) serta camilan khas desa (roti, biskuit manis dan krupuk nasi) yang menemani obrolan malam kami. Herman bercerita tentang desa kealahirannya, kehidupan para tani yang setiap pagi bekerja keras ditemani udara dingin mengigit (kalau saya mungkin pilih tidur dirumah,hehehe). Tentang keindahan alam desa Petung; persawahan, bukit pinus dan kebun salak. Tentang pemuda desa yang sangat gencar melestarikan kesenian dan warga yang sangat peduli budaya setempat. Pernyataan Herman menggelitik hati saya; "hari gini anak muda masih mau njathil??"(Njathil=menari jathilan).


Kesibukan warga desa mulai terlihat sejak kami keluar rumah. Dari penggarap sawah, pencari rumput untuk pakan ternak, dan penggembala domba semua giat bekerja. Siang harinya saya berkesempatan untuk keliling desa saat semua orang menghentikan kegiatannya untuk beristirahat, atau orang sekitar biasa menyebutnya rolasan (Rolas=12,jam 12 siang adalah jam istirahat atau makan siang). Sapaan hangat warga sekitar dan kelakar-kelakarnya membuat saya merasa nyaman dan tak ragu-ragu mengeluarkan kamera Nikon D70 saya untuk mulai memotret. Dengan seijin mereka,beberapa frame(jepretan) bagus pun terekam. Ekspresi jujur nan murah senyum membingkai setiap foto yang saya buat.

Perjalanan kami berlanjut ke rumah salah satu sesepuh desa yang menyelenggarakan pentas wayang kulit. Di pelataran rumah ada panggung kira-kira berukuran 5 x 10 meter,berbatas bammbu melingkarinya dan beralas tikar coklat muda.
Didalamnya sudah siap seperangkat gamelan dan wayang kulit yang tersusun rapi di sepotong batang pisang. Disudut-sudut panggung juga terdapat sesaji berupa bunga,bubur putih dan merah, ketan yang bertabur parutan kelapa, telur ayam kampung,uang logam dan beras ketan, dan ayam panggang. Sesaji itu adalah bentuk penghormatan kepada lelulur dan pengharapan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Dari pelataran rumah saya diajak masuk ke dapur. Disana semua orang sibuk mempersiapkan makanan dan sesaji untuk dihantarkan ke tepi sungai untuk penghormatan terhadap alam terutama air sebagai nadi kehidupan desa. Tak ketinggalan makanan kecil untuk suguhan
para tamu undangan dari desa-desa tetangga. Di ruang tengah ada anak-anak berkumpul membawa makanan dalam wadah yang dibuntal kain. Mereka berkumpul untuk berdoa dan mengucap syukur atas limpahan rejeki yang disimbolkan makanan yang mereka bawa. Lalu mereka pulang untuk menyantap makanan yang tadi sudah didoakan.
Tentunya masih banyak sekali cerita,kebudayaan serta kesenian dari desa Petung diantarannya adalah tari Dayakan, Warog cilik dan Jathilan. Tarian-tarian tersebut diadakan untuk memeriahkan acara-acara desa seperti perayaan khitanan, pagelaran seni dan budaya tingkat daerah maupun kota. Namun sekelumit cerita dari Petung, Pakis, Magelang, Jawa Tengah,diharapkan dapat mewakili cerita sebuah desa di Indonesia. Sebuah desa yang kehidupannya seimbang dan bersahaja. Sebuah desa yang memberi kesan nyaman dan sangat membumi. Sebuah desa yang juga tempat sejuta budaya. Semoga desa Petung dapat memberi contoh bagi kehidupan masyarakat pada umumnya dan semoga dapat berkembang menuju ke keharmonisan.


Perjalanan kami berlanjut ke rumah salah satu sesepuh desa yang menyelenggarakan pentas wayang kulit. Di pelataran rumah ada panggung kira-kira berukuran 5 x 10 meter,berbatas bammbu melingkarinya dan beralas tikar coklat muda.

Didalamnya sudah siap seperangkat gamelan dan wayang kulit yang tersusun rapi di sepotong batang pisang. Disudut-sudut panggung juga terdapat sesaji berupa bunga,bubur putih dan merah, ketan yang bertabur parutan kelapa, telur ayam kampung,uang logam dan beras ketan, dan ayam panggang. Sesaji itu adalah bentuk penghormatan kepada lelulur dan pengharapan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Dari pelataran rumah saya diajak masuk ke dapur. Disana semua orang sibuk mempersiapkan makanan dan sesaji untuk dihantarkan ke tepi sungai untuk penghormatan terhadap alam terutama air sebagai nadi kehidupan desa. Tak ketinggalan makanan kecil untuk suguhan
para tamu undangan dari desa-desa tetangga. Di ruang tengah ada anak-anak berkumpul membawa makanan dalam wadah yang dibuntal kain. Mereka berkumpul untuk berdoa dan mengucap syukur atas limpahan rejeki yang disimbolkan makanan yang mereka bawa. Lalu mereka pulang untuk menyantap makanan yang tadi sudah didoakan.Tentunya masih banyak sekali cerita,kebudayaan serta kesenian dari desa Petung diantarannya adalah tari Dayakan, Warog cilik dan Jathilan. Tarian-tarian tersebut diadakan untuk memeriahkan acara-acara desa seperti perayaan khitanan, pagelaran seni dan budaya tingkat daerah maupun kota. Namun sekelumit cerita dari Petung, Pakis, Magelang, Jawa Tengah,diharapkan dapat mewakili cerita sebuah desa di Indonesia. Sebuah desa yang kehidupannya seimbang dan bersahaja. Sebuah desa yang memberi kesan nyaman dan sangat membumi. Sebuah desa yang juga tempat sejuta budaya. Semoga desa Petung dapat memberi contoh bagi kehidupan masyarakat pada umumnya dan semoga dapat berkembang menuju ke keharmonisan.
