Rabu, 06 Januari 2010

Mencari Keseimbangan

Being a teacher is not that easy


Selama saya kuliah pekerjaan yang saya bayangkan bukanlah menjadi guru. Saya sempat terjebak dalam paradigma yang favorit adalah yang baik. Hal ini terjadi di saat saya memilih jurusan pada waktu SMA kelas 3.

Namun, seiring waktu saya cukup menikmati proses belajar dibangku kuliah. Walaupun cukup lama saya menyelesaikannya (8tahun) tapi saya bersyukur bahwa proses itu akhirnya dapat saya selesaikan. Sempat terbersit dipikiran saya untuk menyerah, tapi datang kata-kata "apa yang dimulai harus diselesaikan". Entah darimana datangnya kata-kata itu, tapi kalimat itu penuh makna dan menjadi kekuatan untuk menuntaskan apa yang sudah saya mulai.

Bukan ingin mencari alasan atau pembenaran, kuliah saya berlangsung lama karena hobi. Fotografi, ya, misteri seni dua dimensi ini menghipnotis pikiran logis saya untuk berimajinasi tinggi sekali. Waktu dan uang bulanan saya tersita untuk memanjakan hobi ini. Tapi bukan tanpa hasil, dari fotografi saya belajar banyak tentang kesabaran, keseimbangan, dan seni itu sendiri.

Sekarang saya mengaplikasikan ilmu saya dengan menjadi guru disalah satu SMP di bilangan Jakarta selatan. Hal tersebut saya tempuh sebagai bentuk tanggung jawab saya akan bidang studi yang saya pilih. Disamping mengajar bahasa Inggris, saya juga menemani siswa-siswi dalam kegiatan fotografi. Membagi ilmu dan belajar bersama mereka yang sangat bersemangat. Ada kepuasan tersendiri ketika mereka yang saya dampingi mendapat prestasi (juara 3 fotografi tingkat SMP Katolik se-Jakarta dan juara 1 fotografi di Tarakanita Lima Cup).

Saya mengejar keseimbangan dalam proses menjadi seorang guru. Kinerja yang maksimal, hubungan antar guru, dan hubungan dengan murid yang harmonis adalah cita-cita saya dalam jangka waktu dekat. Semoga cita-cita ini tidak terlalu muluk dan dapat tercapai.


Frans


Thanks for reading my story

Tidak ada komentar:

Posting Komentar