Senin, 29 Maret 2010

Meramu Rencana Pembelajaran Fotografi (Tingkat SMP)

Photography syllabus for junior high school

Selama hampir satu tahun mengajar di SMP Tarakanita 3, selain mengajar matapelajaran Bahasa Inggris, saya juga memberi sedikit ilmu fotografi kepada murid-murid kelas 9. Hasilnya cukup mengembirakan, dalam kurun waktu tujuh bulan kami sudah membawa pulang dua piala; juara 3 antar SMP katolik se-DKI jakarta dan juara 1 Tarakanita Lima Cup.

Cara belajar kami sebatas kumpul dan sharing/berbagi ilmu dan praktek memotret. Membaca referensi dan membahas hasil foto kami. Dengan formasi saya sebagai pemberi materi dan Abigail, Didit, Ivan sebagai peminatnya, kami berkumpul satu kali dalam seminggu di perpustakaan untuk membahas fotografi (alat dan teknik memotret yang benar).


Tim fotografi SMP Tarakanita 3 bersama model (ki-ka: FX Dwi Putranto,
Kevin Lee, Ivan Mahendra, Sheila Azaria, Abigail Sinaga Didit Yudistira)

Melihat potensi yang ada maka mulai tahun ajaran baru 2010-2011 akan diadakan ekstrakulikuler fotografi di SMP Tarakanita 3. Maka untuk mendukung pembelajaran yang efektif berikut adalah rencana pembelajaran yang saya susun sendiri.

Rencana Pembelajaran Fotografi tingkat Sekolah Menengah Pertama

1. Pengenalan Kamera (Cara kerja kamera dan bagian-bagiannya)
2. Cahaya dan Exposure (mengenal cahaya sebagai jiwa fotografi)
3. Komposisi (Tata letak elemen dan warna)
4. Kecepatan dan pergerakkan
5. Ruang tajam
6. Memahami bentuk, pola, garis, dan tekstur



7.Teknik Dasar Memotret
  • Low dan High Angle
  • Siluet
  • Framing
  • Sunrise dan Sunset
  • Night lights
8. Mengenal kategori foto
  • People
  • Landscape
  • Still life
  • Architecture
  • Cityscape
9. Pengenalan kamar terang (Photoshop)
  • Tools
  • Layer
  • Levels
  • Contrast
  • Burning dan Dodging

Rencana pembelajaran ini saya susun atas dasar kebutuhan siswa-siswa tingkat SMP. Didalamnya direncanakan hunting minimal satu bulan satu kali untuk menerapkan teori yang sudah mereka dapatkan. Semoga rencana pembelajaran ini dapat digunakan dengan efektif dan memotivasi siswa utnuk belajar fotografi dengan benar.



nb: Tulisan ini masih akan saya sempurnakan lagi, mohon masukkan kawan-kawan :)

Jumat, 19 Maret 2010

Fenomena Gunung Es

Banyak sekali sebenarnya yang saya ingin tulis tetapi belum semua terealisasi. Pemikiran-pemikiran liar yang akhirnya mengendap dan hilang juga tidak sempat terekam dalam kata-kata tidak dapat terungkap, seperti gunung es yang hanya terlihat sedikit dipermukaan namun sangat besar dibawahnya. Sulit menemukan waktu yang tepat untuk menerjemahkan buah pikir menjadi tulisan yang layak dibaca. Sepertinya otak ini harus ditata ulang agar bekerja dengan teratur.

Target saya adalah menerbitkan tulisan satu kali dalam seminggu. Semoga bisa terwujud.

Semangat!!!! :)

Senin, 08 Maret 2010

'Piping' (Photo Editing Tutorial)

Looking for Dramatical Tone

Selama ini saya belajar sendiri tentang bagaimana memanipulasi foto. Saya biasa menggunakan Photoshop dan ACDsee pro 3 untuk memanipulasi foto. Kali ini saya mencoba mengolah warna dan memberikan sentuhan nada warna kelam (gothic) untuk menambah kesan dramatis. Dan di bawah ini adalah langkah-langkahnya. Semoga bermanfaat.



Foto ini adalah hasil jalan-jalan di kawasan Tamansari, Yogyakarta. Dikalangan masyarakat Yogyakarta Taman Sari sangat terkenal akan bangunan tuanya. Taman Sari yang berarti taman yang indah dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1757 dan berfungsi sebagai tempat hiburan keluarga keraton sekaligus sebagai benteng pertahanan. Arsiteknya berkebangsaan Portugis sehingga arsitektur Taman Sari kental nuansa jawa berpadu dengan gaya portugis. Sehingga bisa dibayangkan sudut-sudut bangunan yang eksotis terpapar di banyak bagian dari komplek seluas 12 hektar ini.

Foto 'Piping' ini saya ambil di salah satu sudut bangunan Pulau Cemeti, persis di sebelah selatan pasar burung Ngasem. Dari foto ini kita lihat latar belakang tembok berpolakan batu bata yang termakan usia. Disebelah kanan atas kita lihat bangunan
yang sudah direstorasi awal maret 2007 pasca gempa tahun 2006. Foto saya komposisikan berdasarkan aturan '9 golden element'(2/3 bagian POI dan Latar belakang dan 1/3 bagian atas adalah langit).Lensa fisheye yang saya gunakan memberi efek cembung
dan memungkinkan banyak sudut terekam dalam satu frame.

Post process saya garap untuk mencari nada warna yang dramatis. Memberi kontras yang dalam antara model dengan latar belakang.
Langkah pertama adalah menyesuaikan warna-warna secara keseluruhan dengan menggunakan program ACDsee Pro3. Program ini sudah terkenal dikalangan fotografer dan sangat bersahabat dengan penggunanya.ACDsee Pro 3 melengkapi dirinya dengan proses lanjutan kamar terang sehingga penyesuaian proses gambar dapat dengan mudah dilakukan.
Dalam foto ini saya gunakan penyesuaian warna gambar dengan menggunakan fasilitas 'Advanced Color'. Ilustrasi gambar dan Langkah-langkah berikut akan menjelaskan secara detail;

langkah 1 : buka foto yang akan diproses dan pilih 'process'pada panel disebelah kanan atas.
langkah 2 : pilih 'Advanced Color' dikotak fasilitas sebelah kiri dan pilih 'saturation'.
langkah 3 : sesuaikan warna-warna sehingga didapat nada warna yang diinginkan.


Proses diatas membantu saya dalam menentukan nada warna yang saya inginkan.
Warna yang miskin pada latar belakang sengaja saya pilih dengan mengurangi warna merah bata untuk memberi kesan tua dan kokoh.
Sedangkan warna kuning juga saya kurangi untuk memberi kesan warna kulit yang lebih lembut.

Langkah selanjutnya saya gunakan program Adobe Photoshop CS2. Penyesuaian yang saya jalankan di Photoshop CS2 adalah langkah-langkah dasar yang juga biasa digunakan dalam kamar gelap.

Langkah pertama adalah membuat new layer (ctrl+shift + N)untuk proses burning & dodging, maka akan keluar panel box seperti di bawah ini.


Kemudian tentukan mode menjadi 'overlay'.



Setelah itu centang 'Fill with overlay-neutral color', tujuannya adalah menambahkan nada warna yang natural agar tidak terkesan berlabihan.




Kemudian langkah selanjutnya adalah burning dan dodging. Dalam langkah ini kita dituntut untuk sabar agar didapat nada warna gelap-terang yang kita inginkan. Atur kepekatan burning/dodging dan range yang akan kita mainkan.



Saya mencoba menggelapkan bagian-bagian pinggir bingkai foto dan juga melakukan penyesuaian gelap-terang dibeberapa bagian wajah. Pada bagian langit yang sangat terang saya gunakan fitur 'gradient tool' dengan terlebih dahulu membuat layer baru. Dengan langkah ini saya mencoba memberi kesan agar POI (model) bisa terlihat lebih dominan.


Beberapa foto khususnya kategori potrait atau fashion cocok dengan metode manipulasi ini. Namun pada umumnya metode pengolahan gelap-terang biasa digunakan oleh semua kategori foto.

Selamat mencoba!!!!

=====================================================================

"I try to reveal the mistery of light and pursue the satisfaciton within"





Rabu, 06 Januari 2010

Mencari Keseimbangan

Being a teacher is not that easy


Selama saya kuliah pekerjaan yang saya bayangkan bukanlah menjadi guru. Saya sempat terjebak dalam paradigma yang favorit adalah yang baik. Hal ini terjadi di saat saya memilih jurusan pada waktu SMA kelas 3.

Namun, seiring waktu saya cukup menikmati proses belajar dibangku kuliah. Walaupun cukup lama saya menyelesaikannya (8tahun) tapi saya bersyukur bahwa proses itu akhirnya dapat saya selesaikan. Sempat terbersit dipikiran saya untuk menyerah, tapi datang kata-kata "apa yang dimulai harus diselesaikan". Entah darimana datangnya kata-kata itu, tapi kalimat itu penuh makna dan menjadi kekuatan untuk menuntaskan apa yang sudah saya mulai.

Bukan ingin mencari alasan atau pembenaran, kuliah saya berlangsung lama karena hobi. Fotografi, ya, misteri seni dua dimensi ini menghipnotis pikiran logis saya untuk berimajinasi tinggi sekali. Waktu dan uang bulanan saya tersita untuk memanjakan hobi ini. Tapi bukan tanpa hasil, dari fotografi saya belajar banyak tentang kesabaran, keseimbangan, dan seni itu sendiri.

Sekarang saya mengaplikasikan ilmu saya dengan menjadi guru disalah satu SMP di bilangan Jakarta selatan. Hal tersebut saya tempuh sebagai bentuk tanggung jawab saya akan bidang studi yang saya pilih. Disamping mengajar bahasa Inggris, saya juga menemani siswa-siswi dalam kegiatan fotografi. Membagi ilmu dan belajar bersama mereka yang sangat bersemangat. Ada kepuasan tersendiri ketika mereka yang saya dampingi mendapat prestasi (juara 3 fotografi tingkat SMP Katolik se-Jakarta dan juara 1 fotografi di Tarakanita Lima Cup).

Saya mengejar keseimbangan dalam proses menjadi seorang guru. Kinerja yang maksimal, hubungan antar guru, dan hubungan dengan murid yang harmonis adalah cita-cita saya dalam jangka waktu dekat. Semoga cita-cita ini tidak terlalu muluk dan dapat tercapai.


Frans


Thanks for reading my story

Rabu, 06 Februari 2008

Ragu Mereka Kekuatan Kita

Setiap mereka yang ragu adalah kekuatan kita,
Setiap mereka yang bimbang adalah jalan bahagia kita,
Setiap mereka yang benci adalah doa bagi kita,
Untuk saling cinta

Puisi dibuat akhir tahun 2006, banyak yang ragu kalau kami (saya dan istri saya sekarang)  tidak akan pacaran lama. 

Sabtu, 10 November 2007

Petung; Sebuah Ritual Rakyat

Kawan saya Daniel Tobu memperkenalkan saya dengan Herman Widi, seorang sederhana nan tegas lulusan Institut Seni Indonesia yang berasal dari desa Petung, Pakis, Magelang Jawa Tengah. Sebuah desa asri berada di lereng kaki gunung merapi kurang lebih satu jam perjalanan dari muntilan. Herman mengajak saya untuk bermalam dirumahnya,karena esok harinya kami ingin melihat dan saya ingin memotret ritual sebelum diselenggarakannya pagelaran wayang. Udara malam yang dingin mengurungkan niat saya untuk mandi(hehehe), tetapi saya tidak bisa menolak segelas teh panas ala wong Jowo(seduhan daun teh dan gula pasir yang langsung dihidangkan di gelas) serta camilan khas desa (roti, biskuit manis dan krupuk nasi) yang menemani obrolan malam kami. Herman bercerita tentang desa kealahirannya, kehidupan para tani yang setiap pagi bekerja keras ditemani udara dingin mengigit (kalau saya mungkin pilih tidur dirumah,hehehe). Tentang keindahan alam desa Petung; persawahan, bukit pinus dan kebun salak. Tentang pemuda desa yang sangat gencar melestarikan kesenian dan warga yang sangat peduli budaya setempat. Pernyataan Herman menggelitik hati saya; "hari gini anak muda masih mau njathil??"(Njathil=menari jathilan).

Pagi hari setelah sarapan sepiring nasi hangat, oseng-oseng buncis dan lauk favorit saya tempe goreng yang masih puanas serta segelas teh hangat kami berkeliling desa. Bersama Herman dan Tobu saya berkeliling persawahan,kebun salak dan bukit di belakang rumah.Ternyata benar apa yang diceritakan Herman.



Kesibukan warga desa mulai terlihat sejak kami keluar rumah. Dari penggarap sawah, pencari rumput untuk pakan ternak, dan penggembala domba semua giat bekerja. Siang harinya saya berkesempatan untuk keliling desa saat semua orang menghentikan kegiatannya untuk beristirahat, atau orang sekitar biasa menyebutnya rolasan (Rolas=12,jam 12 siang adalah jam istirahat atau makan siang). Sapaan hangat warga sekitar dan kelakar-kelakarnya membuat saya merasa nyaman dan tak ragu-ragu mengeluarkan kamera Nikon D70 saya untuk mulai memotret. Dengan seijin mereka,beberapa frame(jepretan) bagus pun terekam. Ekspresi jujur nan murah senyum membingkai setiap foto yang saya buat.









Perjalanan kami berlanjut ke rumah salah satu sesepuh desa yang menyelenggarakan pentas wayang kulit. Di pelataran rumah ada panggung kira-kira berukuran 5 x 10 meter,berbatas bammbu melingkarinya dan beralas tikar coklat muda. Didalamnya sudah siap seperangkat gamelan dan wayang kulit yang tersusun rapi di sepotong batang pisang. Disudut-sudut panggung juga terdapat sesaji berupa bunga,bubur putih dan merah, ketan yang bertabur parutan kelapa, telur ayam kampung,uang logam dan beras ketan, dan ayam panggang. Sesaji itu adalah bentuk penghormatan kepada lelulur dan pengharapan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Dari pelataran rumah saya diajak masuk ke dapur. Disana semua orang sibuk mempersiapkan makanan dan sesaji untuk dihantarkan ke tepi sungai untuk penghormatan terhadap alam terutama air sebagai nadi kehidupan desa. Tak ketinggalan makanan kecil untuk suguhan para tamu undangan dari desa-desa tetangga. Di ruang tengah ada anak-anak berkumpul membawa makanan dalam wadah yang dibuntal kain. Mereka berkumpul untuk berdoa dan mengucap syukur atas limpahan rejeki yang disimbolkan makanan yang mereka bawa. Lalu mereka pulang untuk menyantap makanan yang tadi sudah didoakan.


Tentunya masih banyak sekali cerita,kebudayaan serta kesenian dari desa Petung diantarannya adalah tari Dayakan, Warog cilik dan Jathilan. Tarian-tarian tersebut diadakan untuk memeriahkan acara-acara desa seperti perayaan khitanan, pagelaran seni dan budaya tingkat daerah maupun kota. Namun sekelumit cerita dari Petung, Pakis, Magelang, Jawa Tengah,diharapkan dapat mewakili cerita sebuah desa di Indonesia. Sebuah desa yang kehidupannya seimbang dan bersahaja. Sebuah desa yang memberi kesan nyaman dan sangat membumi. Sebuah desa yang juga tempat sejuta budaya. Semoga desa Petung dapat memberi contoh bagi kehidupan masyarakat pada umumnya dan semoga dapat berkembang menuju ke keharmonisan.